Sabtu, 26 April 2014

Manusia dan Kebudayaan di Indonesia



Manusia adalam makhluk sosial yang berarti manusia tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan dorongan serta manusia lain dalam hidupnya.
Kebudayaan merupakan suatu nilai, keprcayaan, sikap, perilaku yang dimiliki suatu kelompok atau individu yang dilakukan secara berulang-ulang yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan dan diwariskan secara turun temurun.
Dalam hal ini manusia dan kebudayaan memiliki hubungan yang erat dimana manusia seabagi pembawa, penganut serta pencipta suatu kebudayaan. Serta, kebudayaan itu sendiri tidak akan terwujud tanpa adanya peran manusia di dalamnya.
     Dalam buku Manusia dan Kebudayaan Indonesia karangan Koentjaraningrat  mengemukakan bahwa ada tujuh unsur kebudayaan yaitu bahasa, kesenian, sistem religi, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, dan sistem ilmu pengetahuan (Koentjaraningrat, 1979: 203-204). Ketujuh unsur kebudayaan ini disebut Koentjaraningrat sebagai unsur kebudayaan universal karena selalu ada pada setiap masyarakat. Koentjaraningrat menjelaskan bahwa ketujuh unsur tersebut dapat diperinci lagi menjadi sub unsur hingga beberapa kali menjadi lebih kecil.
Jadi, unsur-unsur kebudayaan yang dikemukakan Koentjaraningrat memiliki hubungan yang erat pada manusia. Dimana dalam unsur-unsur kebudayaan tersebut manusia menjadi pelaku dalam pembentukan suatu kebudayaan yang muncul dan berkembang di kalangan atau kelompok tertentu.
Indonesia memiliki banyak jenis kebudayaan misal, data istiadat, pakaian adat daerah, alat musik daerah, lagu daerah, rumah adat, bahasa yang berbeda-beda dan senjata daerah. Generasi penerus Bangsa harus melestarikan dan melindungi semua kebudayaan yang dimiliki Indonesia, sehingga kebudayaan yang dimiliki Indonesia tidak punah apalagi sampai diakui oleh negara lain.
Dalam penciptaan dan perkembangan suatu kebudayaan manusialah yang mempunyai peranan yang penting pada hal tersebut. Oleh karena itu, hendaknya manusia mempunyai sikap empati dan simpati dalam pelestarian kebudayaan yang dimiliki suatu  negara, kelompok maupun yang lainnya yang menjadikan kebudayaan tersebut menjadi ciri khas.

Jumat, 25 April 2014

Puisi


 Untumu Ayah & Ibu, Aku Bertahan
Ayah & Ibu. . . . .
Aku di sini merindukanmu. . . .
Kadang aku merasa lelah dengan keadaan ini. . . .
Karena aku pikir bahwa  aku tak sanggup, hidup jauh darimu. . . .

Tak pernah terlintas di benakku untuk membuatmu kecewa
Atau bahkan membuatmu menangis
Aku ingin menggoreskan senyum bangga dan bahagia dalam hidupmu
Tak akan ku biarkan air mata kesedihan dan kecewa  singgah di wajahmu

Disetiap langkahku selalu teringat kan nasehat dan jasamu
Jasa yang belum bisa atau bahkan tak bisa ku balas hingga saat ini
Dan dalam setiap doaku selalu terselip namamu ayah & ibu
Semoga kebahagiaan selalu menghampirimu

Sesulit apapun rintangan yang menghadangku
Kan ku hadapi
Meski harus ku korbankan semuanya
Semua ini karenamu ayah dan ibu


Ayah & ibu. . . . .
Kaulah alasan terbesarku untuk tetap bertahan
Bertahan dari keadaan yang sulit ini
Hanya kalianlah satu-satunya yang bisa membuatku tegar

PENETRASI KEBUDAYAAN


Penetrasi kebudayaan adalah masuknya suatu kebudayaan ke kebudayaan lain. Penetrasi kebudayaan ini dilakukan dengan 2 cara, yakni penetrasi kekerasan dan penetrasi damai. Penetrasi kekerasan adalah masuknya suatu kebudayaan dari suatu daerah ke daerah lain dengan cara memaksa atau kebudayaan itu bersifat merusak, contohnya kerja paksa yang dilakukan Jepang dan Belanda kepada Indonesia waktu zaman penjajahan. Hal itu dilakukan dengan memaksakan kebudayaan mereka pada Indonesia.
Penetrasi damai adalah masuknya suatu kebudayaan dengan cara yang damai tanpa menimbulkan konflik, tetapi dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan masyarakat. Contoh agama Hindu-Buddha yang ada di Indonesia yang masuk dengan damai tanpa timbulnya konflik. Penertasi damai ini akan menghasilkan:
a.       Difusi
Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur budaya ke dunia.
b.      Asimilasi
Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan yang kemudian membentuk kebudayaan baru.
c.       Akulturasi
Akulturasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan yang baru, tetapi tidak meninggalkan atau menghilangkan unsur kebudayaan yang asli. Misalnya agama Islam yang ada di Jawa sangat berbeda dengan agama Islam yang ada di Jeddah, hal ini terjadi karena perbedaan budaya dan percampuran kepercayaan yang dianut masyarakat dengan kebudayaan yang ada di lingkungan tersebut. Ataupun agama Hindu yang ada di Bali dengan Hindu yang ada di India, yang pasti mempunyai perbedaan akibat kebudayaan yang ada di lingkungan sekitar.

PELAKSANAAN DAN PERAN BK DI SEKOLAH


Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, laki-laki atau perempuan yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mangatur kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri (Crow & Crow). Konseling adalah interaksi yang terjadi antara dua orang individu, yakni konselor dan klien, terjadi dalam suasana professional, dilakukan dan dijaga sebagi alat memudahkan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien (Pepsinky & pepsinky, dalam Shertzer & Stone, 1974).  Apa yang dikemukakan oleh para ahli mengenai Bimbingan dan Konseling jelas bahwa  layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah ialah untuk membantu siswa agar dapat memahami dirinya sendiri, memberikan pemahaman diri, mangarahkan diri, mengaktualisasikan diri, serta mengembangkan diri secara optimal, serta membuat siswa menjadi individu yang mandiri.
Namun dalam pelaksanaannya Bimbingan dan Konseling di sekolah berlangsung tidak sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan dan praktik penyelenggaraannya. Sering kali  di sekolah-sekolah menjadikan guru BK sebagai polisi sekolah, yakni yang bertanggung jawab untuk menangani, menghukum siswa yang bermasalah, mempertahankan tata tertib dan keamanan sekolah, serta tak jarang orang yang menjadi guru BK di sekolah  bukan yang ahli dalam Bimbingan dan Koneling atau masih ditemukan guru mata pelajaran lain menjadi guru BK di sekolah. Karena anggapan itulah yang menjadi siswa tidak mau dekat dengan guru BK di sekolah dan berpandangan bahwa orang yang datang kepada guru BK berarti sedang dalam masalah atau pandangan negatif lainnya. Sebenarnya, orang berpikiran negatif bukan hanya
Selain itu tak jarang setiap orang berpikir bahwa hanya guru BK yang dapat menanggulani masalah yang dihadapi siswa. Karena pada dasarnya guru BK tidak dapat bekerja sendiri, guru BK bekerjasama dengan pihak-pihak yang dapat membantu masalah yang sedang dihadapi siswa. Dalam hal ini lingkungan keluarga, social serta sekolah sebab itu merupakan masalah yang berkaitan dengan siswa.
Kesalahpahaman dalam BK ini terjadi karena masih banyak siswa, serta masyarakat yang belum tahu dan mengenal  mengenai Bimbingan dan Konseling, mereka hanya mengetahui Bimbingan dan Konseling itu  hanya sekedar menjadi polisi sekolah yang menghukum siswa yang melakukan pelanggaran serta Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan oleh siapa saja.
Adapun tujuan Bimbingan dan Konseling yang dikemukakan oleh Thompson dan Rudolph (1983) bahwa Bimbingan dan Konseling bertujuan agar klien (siswa) (a) mengikuti kemauan atau saran-saran dari konselor (guru BK), (b) mengadakan perubahan tingkah laku secara positif, (c) melakukan pemecahan masalah, (d) melakukan pengambilan keputusan, pengembangan kesadaran, dan pengembangan pribadi, mengembangkan penerimaan diri, (e) serta memberikan pengukuhan.
Jika kesalahpahaman ini terus berlanjut, maka yang terjadi ialah seterusnya Bimbingan dan Konseling akan tidak akan berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan dan praktiknya kehilangan fungsi BK, yakni :
a.       fungsi pencegahan, artinya bahwa Bimbingan dan Konseling ini berfungsi mencegah hal-hal yang dapat menghambat perkembagan siswa.
b.      fungsi pemahaman, artinya membantu siswa dalam memahami dirinya.
c.        fungsi berbaikan, artinya Bimbingan dan Konseling
d.      fungsi pemeliharaan dan perkembangan
Tapi, bukan hanya itu saja. Kemungkinan lainnya Bimbingan dan Konseling tidak akan pernah dianggap sebagai proses pemeberian bantuan kepada siswa, melainkan Bimbingan dan Konseling lebih dianggap sebagai polisi sekolah saja.
Kesalahpahaman yang masih terjadi saat ini harus segera diselesaikan, supaya BK bisa berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan dan praktiknya,

Referensi :
Prof. Dr. H. Prayitno, M. Sc. Ed dan Drs. Erman Amti . 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta

PENGARUH HINDU-BUDHA TERHADAP KEBUDAYAAN INDONESIA

Terdapat beberapa teori masuknya Hindu Budha ke Indonesia, yaitu:
1.      Teori Sudra
Teori ini mmengatakan bahwa Hindu Budha bisa masuk dan berkembang di Indonesia karena dibawa oleh orang-orang India yang datangn ke Indonesia.
2.      Teori Waisya
 Teori ini menjelaskan bawa Hindu Budha yang ada di Indonesia dibawa oleh pedangang .
3.      Teori Kestaria
Hindu Budha dibawa oleh kesatria India yang lari ke Indonesia akubat terjadinya kekacauan politik di India.
4.      Teori Brahmana
Terjadi akibat adanya undungan kepala suku ke Indonesia.
5.      Teori Arus Balik
Masuknya budaya asing ke dalam,lingkungan masyarakat dapat menimbulkan tiga kemungkinan, yakni akulturasi, asimilasi atau.  Hal ini juga terjadi akibat pengaruh agama Hindu-Budha pada kebudayaan yang ada di Indonesia
Banyak yang ditimbulkan akibat masuk dan berkembangnya agama Hindu-Budha, yakni
1.      pengaruh Hindu-Budha terhadap bangunan, hal ini bisa kita lihat pada bagunan candi-candi yang ada di Indonesia. Dalam fungsinya, candi dalam agama Hindu dijadikan atau difungsikan  sebagai makam, sedangkan Budha, candi difungsikan sebagai tempat peribadatan. Contoh candi bercorak Hindu : candi prambanan, contoh candi bercorak Budha: candi Borobudur.
2.      Hindu Budha juga mempunyai pengaruh terhadap seni rupa, hal tersebut masih bisa dilihat pada corak atau ukiran yang ada di bangunan-bangunan candi. Dimana keduanya memiliki perbedaan.
3.      Pengaruh Hindu Budha terhadap seni sastra, ini bisa dilihat dari kisah kepahlawanan masyarakat India  seperti cerita Mahabarata dan Ramayana, dimana cerita tersebut berasal dari India tetapi karean adanya akulturasi maka cerita tersebut terdapat modifikasi jadi seolah-olah peristiwa-peristiwa tersebut benar-benar terjadi di Indonesia.
4.      Pengaruh Hindu Budha terhadap system pemerintahan,  sebelum Hindu-Budha masuk ke Indonesia, suku-suku asli yang ada di Indonesia memilih ketua atau pemimpin suku dengan menggunakan prinsip primus inter pares artinya siapa yang kuat maka dia yang akan menjadi pemimpin. Tetapi, setelah Hindu-Budha masuk system terssebut berubah menjadi kerajaan.
5.      Pengaruh Hindu Budha terhadap system kepercayaan, saan Hindu Budha belum masuk ke Indonesia penduduk asli masih menganut system kepercayaan animisme dan dinamismetetepi setelah agama Hindu Budha masuk ke Indonesia maka terjadi akulturasi, dimana masyarakat menerima masuknya kepercayaan Hindu Budha.