Jumat, 27 November 2015

FILSAFAT PENDIDIKAN DI INDONESIA


           Peran penting pendidikan yakni menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu bangsa. Pendidikan itu diselenggarakan oleh pemerintah. Tujuan dari pendidikan itu sendiri berkaitan dengan system nilai dan norma-norma dalam konteks keberdayaan.
           Pendidikan di Indonesia mengacu pada filsafat negara yakni Pancasila. Pancasila sebagai dasar filsafat pendidikan di Indonesia karena Pancasila sendiri hakikatnya juga filsafat, dasar negara, dan ideologi bangsa dan negara dapat mengakomodasi berbagai paham atau filsafat semua bangsa karena hakikat Pancasila bersifat universal, universal dalam konteks keIndonesiaan.
         Menjadi dasar filosofis pendidikan di Indonesia diperlukan kepahaman dan keyakinan yang mendalam tentang ontology, yakni hakikat dari Pancasila, epistemology yakni sumber kebenaran dari Pancasila dan aksiologi yakni nilai-nilai yang terkadung pada Pancasila.
         Fungsi pancasila sebagai landasan pemikiran dan pelaksanaan pendidikan di Indonesia dapat dipandang bahwa sudah ada landasan filosofis dalam pendidikan di Indonesia, namun secara formal belum disebut  sebagai dasar  filsafat pendidikan karena secara formal belum digunakan istilah filsafat pendidikan dalam sistem pendidikan di Indonesia.
         Pendidikan Pancasila sebagai filsafat bangsa dan filsafat pendidikan Indonesia yang merupakan termasuk pendidikan humanis-religius dalam hal tersebut bisa saling memposisikan diri. Pendidikan di Indonesia juga harus menanamkan dan melihat sisi budaya yang ada di Indonesia, karena Indonesia memiliki ragam budaya, maka Pancasila digunakan sebagai pemersatu.

Rabu, 15 April 2015

KULIAH UMUM BK PENDIDIKAN DASAR

BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

            Pada hari kamis, tanggal 8 April 2015 prodi Bimbingan dan Konseling ,Universitas Teknologi Yogyakarta dalam mata kuliah BK Pendidikan Dasar menghadirkan praktisi Bimbingan dan Konseling dari SDI Al-Azhar Yogyakarta, yaitu Ibu Erni Setyani, S. Pd. Kegiatan ini tentu saja sangat bermanfaat bagi kami. Banyak pengetahuan baru yang didapatkan mengenai realita pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar.

     Keberadaan Bimbingan dan Konseling saat ini masih jarang ditemui, karena masih yang beranggapan bahwa Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar tidak banyak mendatangkan manfaat. Padahal Bimbingan dan konseling di sekolah dasar bertujuan untuk membantu memandirikan peserta didik dan mengembangkan potensi-potensi yang mereka miliki agar berkembang secara optimal melalui program dan layanan Bimbingan dan Konseling.

        Menurut Ahman dan Sunaryo dalam Muhammad Ali, terdapat faktor penting yang membedakan layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah dasar dan menengah, antara lain: (1) Bimbingan konseling di sekolah dasar lebih menekankan pentingnya peran guru dalam fungsi-fungsi bimbingan dengan model pembelajaran guru kelas; (2) fokus bimbingan konseling di sekolah dasar lebih menekankan pengembangan potensi peserta didik, pemahaman diri, pemecahan masalah, dan kemampuan membangun berhubungan secara efektif dengan orang lain; (3) bimbingan konseling di sekolah dasar lebih banyak melibatkan orangtua, mengingat pentingnya pengaruh orangtua dalam kehidupan anak sebelum dan selama di sekolah; (4) program bimbingan di sekolah dasar hendaknya peduli terhadap aspek perkembangan peserta didik sebagai kebutuhan dasar anak; (5) program bimbingan di sekolah dasar hendaknya meyakini bahwa usia SD merupakan tahapan yang amat penting dalam perkembangan anak

          Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar berbeda dengan pelaksanaan di SLTP atau di SLTA. Perbedaan ini terletak pada keterlibatan orangtua daripada peserta didik, karena peserta didik di SD masih sulit untuk diajak bekerja sama dengan konselor/guru BK dan faktor pentingnya pengaruh orangtua dalam kehidupan anak sebelum dan selama di sekolah. Selain itu, dalam pemberian layanan di sekolah dasar, konselor/guru BK tidak dapat menggunakan layanan klasikal seperti medote ceramah. Hal itu akan membuat peserta didik jenuh dan tidak memperhatikan dengan baik, maka untuk itu pemberian layanan harus dipraktekan secara langsung agar peserta didik mengerti dan memahami materi yang disampaikan. Contoh layanan Bimbingan yang cocok diterapkan di SD, dengan menggunakan metode bermain dan berceritam, namun inti pesan yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dalam permainan tersebut. Misal, menyampaikan materi tentang kerjasama, maka bisa menggunakan permainan-permainan yang melatih kerjasama peserta didik.

          Tugas perkembangan peserta didik di Sekolah Dasar, yaitu memiliki kebiasaan dan sikap dalam beriman serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengembangkan keterampilan dasar membaca, menulis, dan berhitung, mengembangkan konsep-konsep yang perlu dalam kehidupan sehati-hari,belajar bergaul dan bekerja dengan kelompok sebaya dan belajar menjadi pribadi yang mandiri. Selain tugas perkembangan yang sudah dijelaskan di atas, tugas perkembangan peserta didik di SD, yaitu meliputi perkembangan fisik dan keterampilan, perkembangan kemampuan bahasa, perkembangan kondisi emosi, perkembangan sikap dan perilaku moral agama, perkembangan perilaku sosial-kelompok dan bermain, serta perkembangan intelektuaL (Muhammad Irham dan Novan Ardy, 2012:44)

       Sama halnya dengan Bimbingan dan Konseling di SLTP dan SLTA, di sekolah dasar pun pelayanan bimbingan dan konseling bukan hanya diberikan pada peserta didik yang mempunyai masalah saja, melainkan diberikan untuk semua peserta didik, agar proses perkembangannya berjalan lebih lancar.

      Berbeda dengan SLTP dan SLTA, penyusunan program dalam bimbingan dan konseling di sekolah dasar tidak dapat menggunakan alat non tes seperti DCM, IKMS, dan AUM, melainkan dengan menggunakan instrument ATP, observasi, wawancara dan study documenter. Untuk penyusunan program dari hasil need assessment dibuatbprogram tahunan, bulanan, mingguan dan harian.

       Permasalahan yang sering muncul di Sekolah Dasar, yakni penyesuaian diri awal masuk sekolah, tidak mau makan, memberontak di kelas, suka memuku, berkelahi, suka berbohong, kecanduan video porno, tempramen, bullying dan suka mencari perhatian. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, konselor/guru perlu menjalin komunikasi dan hubungan dengan semua pihak, baik wali kelas maupun orangtua peserta didik.

      Dengan adanya Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar, diharapkan perkembangan peserta didik menyelesaikan tugas perembangan secara optimal, menjadikan peserta didik sebagai individu yang memiliki kepribadian, perilaku dan sikap yang baik, serta membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki.

            SUMBER:

Irham Muhamad dan Novan Ardy Wiyani. 2012. Bimbingan & Konseling: Teori dan Aplikasi di  Sekolah Dasar. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Rahardjo, Susilo dan Gudnanto. 2013. Pemahaman Individu Teknik Non Tes. Jakarta: Kencana


Rabu, 07 Mei 2014

Manfaatkan Hidup Ini

Kita hidup di dunia hanya sekali, manfaatkan hidup ini untuk hal-hal yang bermakna. jadikan sisa hidup kita bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. jangan menyia-nyiakannya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa "bekerjalah seolah-olah kamu hidup seratus tahun lagi, dan beribadahlah seakan-akan besok kamu akan meninggal". Nah, maka dari itu sebagai umat beragama kita semestinya menjalankan perintah agama dan senantiasa menjahui segala larangannya.
Namun yang disesali ialah manusia selalu dalam keadaan rugi. Kita kadang tidak menyadari bahwa banyak waktu kita yang terbuang sia-sia. Seperti yang tercantum dalam Al-Quran surat Ashr ayat 2
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
"Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian"
Oleh karena itu, mari kita belajar menghargai dan memanfaatkan waktu. Lalu, ada yang mengatakan bahwa 'Waktu adalah uang". Ya, itu memang benar. Coba bayangkan, berapa waktu yang kita sia-siakan untuk hal-hal yang kurang atau bahkan tidak bermanfaat bagi kita. Banyak bukan....??
Jika saja waktu sebanyak itu kita manfaatkan untuk membantu orang lain atau menjalankan kewajiban kita sebagai pelajar, tentu saja banyak manfaat yang akan kita petik. Tapi, mungkin memang sedikit sulit untuk melakukan hal-hal yang jarang dilakukan. Maka dari itu lakukan dari sekarang, lakukan mulai dari hal-hal yang terkecil dulu, dan biasakanlah. Maka, itu akan menjadi suatu kebiasaan yang ke arah positif.

Senin, 28 April 2014

Puisi 2



DIAM
Diamku bukan diam tanpa makna
Diamku menyimpan seribu bahasa
Diamku menyimpan sejuta rasa
Biarkan hanya aku yang tahu
Dan hanya aku saja yang merasakannya
Biar pun itu pahit
Sekalipun itu susah
Biarkan hanya aku saja yang menanggungnya
Tak peduli itu terasa menyakitkan untukku
Diam caraku untuk mengagumimu
Diam caraku untuk mengingatmu
Ku menjagamu dalam diam
Dan diam mengajariku untuk bersabar
Karena kau tak tahu bahwa ku menyukaimu dalam diam




Sabtu, 26 April 2014

Manusia dan Kebudayaan di Indonesia



Manusia adalam makhluk sosial yang berarti manusia tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan dorongan serta manusia lain dalam hidupnya.
Kebudayaan merupakan suatu nilai, keprcayaan, sikap, perilaku yang dimiliki suatu kelompok atau individu yang dilakukan secara berulang-ulang yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan dan diwariskan secara turun temurun.
Dalam hal ini manusia dan kebudayaan memiliki hubungan yang erat dimana manusia seabagi pembawa, penganut serta pencipta suatu kebudayaan. Serta, kebudayaan itu sendiri tidak akan terwujud tanpa adanya peran manusia di dalamnya.
     Dalam buku Manusia dan Kebudayaan Indonesia karangan Koentjaraningrat  mengemukakan bahwa ada tujuh unsur kebudayaan yaitu bahasa, kesenian, sistem religi, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, dan sistem ilmu pengetahuan (Koentjaraningrat, 1979: 203-204). Ketujuh unsur kebudayaan ini disebut Koentjaraningrat sebagai unsur kebudayaan universal karena selalu ada pada setiap masyarakat. Koentjaraningrat menjelaskan bahwa ketujuh unsur tersebut dapat diperinci lagi menjadi sub unsur hingga beberapa kali menjadi lebih kecil.
Jadi, unsur-unsur kebudayaan yang dikemukakan Koentjaraningrat memiliki hubungan yang erat pada manusia. Dimana dalam unsur-unsur kebudayaan tersebut manusia menjadi pelaku dalam pembentukan suatu kebudayaan yang muncul dan berkembang di kalangan atau kelompok tertentu.
Indonesia memiliki banyak jenis kebudayaan misal, data istiadat, pakaian adat daerah, alat musik daerah, lagu daerah, rumah adat, bahasa yang berbeda-beda dan senjata daerah. Generasi penerus Bangsa harus melestarikan dan melindungi semua kebudayaan yang dimiliki Indonesia, sehingga kebudayaan yang dimiliki Indonesia tidak punah apalagi sampai diakui oleh negara lain.
Dalam penciptaan dan perkembangan suatu kebudayaan manusialah yang mempunyai peranan yang penting pada hal tersebut. Oleh karena itu, hendaknya manusia mempunyai sikap empati dan simpati dalam pelestarian kebudayaan yang dimiliki suatu  negara, kelompok maupun yang lainnya yang menjadikan kebudayaan tersebut menjadi ciri khas.